Ujian Nasional: Sebuah Pil Pahit

Walau masih menjadi pro kontra di tengah masyarakat perlu tidaknya dilaksanakan, namun ujian nasional tahun ini tetap akan dilaksanakan. Pelaksanaan UN itu sendiri mempunyai tujuan sebagaimana yang tercantum dalam PP No. 19/2005 tentang Standar Nasional Pendidikan pasal 66 yang menyatakan bahwa: Penilaian hasil belajar bertujuan untuk menilai pencapaian kompetensi lulusan secara nasional pada mata pelajaran tertentu dalam kelompok mata pelajaran. Standar kompetensi adalah kemampuan secara umum yang harus dikuasai lulusan untuk dapat bersaing di tingkat global. Dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi disebutkan bahwa lulusan atau tamatan setiap jenjang sekolah diharapkan memiliki tiga kompetensi, meliputi aspek afektif, aspek kognitif, dan aspek psikomotorik. Pertanyaannya kemudian mengapa

penilaian pencapaian kompetensi tersebut harus melalui ujian nasional, tidakkah sebaiknya diserahkan saja pada pihak guru atau sekolah. Karena disadari bahwa ujian nasional hanya dapat mengukur aspek kognitif peserta didik. Akibatnya, ujian nasional dapat menjadi sebuah “pil pahit” bilamana ada peserta didik yang memiliki aspek afektif (kesopanan, akhlak mulia, prilaku) yang baik dan psikomotorik (terampil, organisatoris, kreatif), justru tidak berhasil mencapai kompetensi lulusan yang telah ditetapkan.

Syarat Kelulusan

Dalam Peraturan Pemerintah No. 19/2005 pasal 72, dijelaskan bahwa peserta didik dinyatakan lulus dari satuan pendidikan dasar dan menengah setelah: (1) menyelesaikan seluruh program pembelajaran, (2) memperoleh nilai minimal baik pada penilaian akhir untuk seluruh mata pelajaran kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia, kelompok mata pelajaran estetika, dan kelompok mata pelajaran jasmani, olah raga, dan kesehatan, (3) lulus ujian sekolah/madrasah untuk kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi, dan (4) lulus UN. Kalau dipilah, maka seorang peserta didik dapat lulus apabila: pertama, peserta didik memiliki kesungguhan dan motivasi tinggi dalam mengikuti proses pembelajaran pada tingkat satuan pendidikan tertentu; kedua, peserta didik memperoleh nilai pada aspek afektif dan psikomotorik yang baik di mana kewenangan proses pemberian nilai dilakukan guru atau sekolah; dan ketiga, adanya kewenangan pemerintah pusat untuk menilai peserta didik pada aspek kognitif melalui ujian nasional pada mata pelajaran tertentu. Jadi anggapan bahwa sekolah menjadi penentu kelulusan seorang peserta didik adalah kurang tepat, karena peserta didik yang dinyatakan tidak lulus UN pasti tidak memenuhi syarat untuk lulus. Begitupun sebaliknya walaupun lulus UN tetapi tidak lulus ujian sekolah maka siswa juga dianggap tidak lulus.

Manfaat Hasil UN

Lantas apa manfaat UN? Maraknya sikap pro kontra terhadap pelaksanaan UN hendaknya menjadi bahan acuan bagi penentu kebijakan untuk mempertimbangkan pelaksanaan UN. Pasal 68 PP No. 19/2005 dengan jelas menyatakan bahwa: hasil ujian nasional digunakan sebagai salah satu pertimbangan untuk: (a). pemetaan mutu program dan/atau satuan pendidikan; (b). dasar seleksi masuk jenjang pendidikan berikutnya; (c). penentuan kelulusan peserta didik dari program dan/atau satuan pendidikan; (d). pembinaan dan pemberian bantuan kepada satuan pendidikan dalam upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan. Realitas berbicara lain, ternyata kita belum siap dalam melakukan perubahan. Menggunakan hasil UN sebagai penentu kelulusan adalah butir yang telah memicu kontroversi dan ketidakpuasan berbagai pihak. Menggunakan hasil UN sebagai bahan pemetaan mutu pendidikan untuk membedakan antara daerah atau sekolah maju yang ditandai dengan nilai rata-rata UN tinggi serta daerah atau sekolah tertinggal yang memiliki nilai rata-rata UN rendah, tentu sangat berguna dalam proses pemberian pembinaan dan bantuan dalam upaya pemerataan mutu pendidikan. Namun, untuk digunakan sebagai penentu kelulusan peserta didik masih menjadi pro kontra. Apalagi kalau hasil UN harus dibaca sebagai “pahlawan” untuk mendongkrak mutu pendidikan. Pasalnya, tingkat kelulusan yang cukup tinggi akan menimbulkan optimisme meningkatnya mutu pendidikan. Beberapa kasus yang sempat mencuat saat dan pasca UN tahun lalu, ternyata tingginya tingkat kelulusan tidak lepas dari kecurangan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: